Faktor Manusia yang bersifat rahasia

Program Pelaporan Insiden

Single Column View
Cacat Desain Membahayakan Proses Naik Kapal Pilot

Laporan Proses Naik Kapal Pilot berbunyi sebagai berikut:

“Kondisi Cuaca (upaya pertama): angin: 33 knot dari Barat Daya; laut: alun 1,7 – 2,5m, Alun/ombak menghantam dek bawah, membuatnya tidak dapat diakses.

Upaya Pertama – Proses naik kapal dibatalkan – Awak kapal terlihat berdiri di atas penutup palka di atas sebuah tangga logam kuning permanen (lihat gambar terlampir), tampaknya mengharapkan pilot untuk naik melalui struktur ini. Tidak ada tangga pilot yang dipasang. Tindakan pemanduan dibatalkan karena tidak adanya tangga yang sesuai standar. Nakhoda telah diinformasikan, dan upaya kedua direncanakan untuk keesokan paginya.

Upaya Kedua – Proses naik kapal dibatalkan – Kondisi cuaca tetap sama seperti upaya pertama. Pilot diarahkan untuk naik di dekat area akomodasi di buritan kapal, setingkat dengan dek bawah. Namun, area ini berulang kali dihantam alun, membuatnya tidak aman untuk transfer. Dua awak kapal kembali ditempatkan di puncak tangga logam vertikal permanen. Pengaturan ini tidak sesuai standar dan menempatkan baik pilot maupun awak kapal pada risiko yang tidak perlu. Awak kapal mencoba membuka sebuah gerbang di tengah kapal sebagai posisi alternatif untuk naik, tetapi air laut masuk ke dek kapal sehingga kondisinya jelas tidak aman (lihat gambar di atas).

Upaya Ketiga – Proses naik kapal selesai – Kondisi cuaca telah membaik, dan pilot dapat melakukan transfer melalui dek bawah. Namun, beberapa masalah keselamatan teramati pada tangga pilot yang dipasang: tangga tidak menempel pada lambung kapal, diikat pada rel pegangan tangan dan bukan pada titik-titik kuat di dek, serta terdapat penghalang di bagian atas—tali tangga tidak rata dengan dek, menciptakan bahaya tersandung dan terjerat.”

Proses naik ke kapal akhirnya berlangsung sekitar 48 jam setelah upaya pertama, dan CHIRP memuji sikap tegas terhadap keselamatan yang diambil oleh para pandu. Laporan ini menyoroti masalah yang terus-menerus terjadi: beberapa kapal masih tidak dapat menyediakan pengaturan transfer pilot yang aman dan sesuai standar, terutama dalam kondisi cuaca buruk. Dalam kasus ini, dua upaya naik kapal dibatalkan karena pengaturan yang tidak aman dan tidak adanya tangga pilot yang dipasang dengan benar. Awak kapal terlihat menggunakan tangga vertikal permanen dan berdiri di atas penutup palka, yang keduanya tidak aman atau sesuai standar dalam kondisi laut yang dinamis.

Meskipun upaya ketiga berhasil dalam cuaca yang lebih tenang, tangga pilot yang dipasang tetap tidak aman, dengan pengikatan yang buruk, celah antara tangga dan lambung, serta penghalang di bagian atas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius. Metode naik kapal improvisasi, sebaik apa pun niatnya, membahayakan pilot dan awak kapal pada risiko yang tidak dapat diterima. Peraturan SOLAS dan IMO bukanlah pilihan; keduanya adalah standar minimum.

Jika dek bawah adalah satu-satunya titik transfer yang memungkinkan, hal ini harus dinyatakan dengan jelas dalam kartu pilot (pilot card) kapal dan disetujui sebelumnya. Tidak ada gunanya memberitahu pilot tentang pengaturan transfer ketika mereka sudah berada di anjungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pelabuhan memiliki prosedur naik kapal untuk cuaca buruk, dengan batasan kondisi cuaca dan laut yang telah ditetapkan? Hanya kondisi yang memenuhi kriteria tersebut yang seharusnya diizinkan untuk proses naik kapal pandu.

Kasus ini mengingatkan kita bahwa jika sebuah kapal tidak dapat menyediakan sarana transfer pilot yang aman dan sesuai standar dalam kondisi yang diperkirakan, kapal tersebut mungkin tidak layak untuk operasi pemanduan tanpa adanya modifikasi. CHIRP akan menyampaikan masalah ini kepada otoritas terkait untuk menjajaki apakah tindakan atau panduan lebih lanjut diperlukan untuk mencegah kejadian berulang. Topik tentang menciptakan sisi lindung (lee) yang aman untuk proses naik kapal telah dibahas oleh Dewan Penasihat Maritim kami, dan akan segera dipublikasikan di bagian ‘Topik Hangat’ (Hot Topics) di situs web kami.

Praktik Lokal – Ketergantungan terus-menerus pada metode yang tidak sesuai standar menyiratkan bahwa praktik-praktik tidak aman mungkin telah diterima secara informal di atas kapal ini.

Sikap Berpuas Diri – Awak kapal tampaknya menerima metode yang tidak aman (misalnya, tangga permanen, penutup palka) sebagai pilihan yang layak untuk naik ke kapal, yang mengindikasikan adanya normalisasi praktik yang tidak sesuai standar.

Kapabilitas – Pemasangan tangga yang tidak benar dan penggunaan berulang pengaturan yang tidak aman menunjukkan pemahaman yang buruk tentang SOLAS Bab V Peraturan 23 dan standar transfer pandu.

Komunikasi – Koordinasi yang tidak jelas antara pilot dan kapal mengenai titik dan kondisi naik kapal menyebabkan upaya yang tidak aman atau dibatalkan.

Poin-poin penting

Bagi Para Pelaut – Ketahui aturannya, jangan berimprovisasi. Improvisasi naik kapal yang tidak aman bukan hanya tidak sesuai standar—tindakan itu membahayakan nyawa. Selalu gunakan tangga pandu yang dipasang dengan benar, jangan pernah menggunakan tangga permanen atau penutup palka. Jika ragu, hentikan proses dan sampaikan masalah ini ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi Para Manajer – Tidak sesuai standar? Berarti belum siap. Kapal harus mampu secara fisik dan prosedural untuk melakukan transfer pandu yang aman dalam kondisi cuaca yang diperkirakan. Pastikan kartu pandu secara akurat mencerminkan pengaturan naik kapal yang sebenarnya dan bahwa awak kapal dilatih untuk memenuhi standar SOLAS.

Bagi Para Regulator – Proses naik kapal yang tidak aman masih terlalu umum. Ketidakpatuhan yang terus-menerus menunjukkan perlunya penegakan hukum, bukan hanya panduan. Perkuat pengawasan terhadap desain transfer pandu dan praktik di atas kapal, serta pastikan kapal yang tidak layak dipaksa untuk mengubah praktik buruk mereka sebelum insiden terjadi.